Dia bukan lahir dari emas,
Tapi dari tanah yang menolaknya tumbuh.
Dijatuhkan seribu kali,
Dan bangkit seribu satu kali.
Tangan berdarah menggenggam mimpi,
Punggung bungkuk memikul badai.
Dihina, dicibir, ditinggalkan,
Tapi langkahnya tak pernah ia padamkan.
Dia lawan lelah dengan doa,
Lawan takut dengan air mata yang ia telan.
Saat dunia bilang “Menyerahlah”,
Dia jawab: “Belum. Aku belum selesai.”
Tidak ada sorotan, tidak ada tepuk tangan,
Hanya sunyi dan dirinya yang terus bertarung.
Karena dia tahu…
Gunung tertinggi didaki dengan luka, bukan tawa.
Dan suatu hari nanti,
Ketika dia berdiri di puncak,
Semua orang akan bertanya: “Bagaimana caranya?”
Dia hanya senyum, menunjuk bekas lukanya:
“Inilah peta jalanku. Ini perjuangan yang begitu hebat.”
by Sulis Triya Ningsih







