Dibacakan oleh Suci Rahmawati XII IPA_Menjadi Perwakilan Kelas XII di Wisuda Purna Siswa (Sabtu,16 Mei 2026)
Tiga tahun lalu, kamu datang dengan langkah ragu, dengan mimpi yang masih samar, dengan hati yang sepenuhnya belum mengerti arah.
Berdiri di ambang gerbang perpisahan ini, rasanya waktu berjalan terlalu cepat, seolah ingin segera menutup lembaran emas yang kita tulis bersama di MA Nurul Amin ini.
Madrasah ini bukan sekadar deretan gedung tua yang bisu, melainkan rahim tempat karakter kami dilahirkan dan tempat di mana setiap sudut koridornya menyimpan gema tawa, peluh, perjuangan, serta doa-doa yang melangit.
Di sinilah, kami yang awalnya datang dengan langkah ragu dan tangan kosong, perlahan ditempa menjadi pribadi yang lebih baik dan tegak.
Kepada ustadz Suudi, S.Pd.I trimakasih telah menjadi kepala madrasah dengan baik, trimakasih atas nasehat dan dedikasi yang engkau berikan kepada kami, agar kami menjadi pribadi yang lebih baik, trimakasih kepada ustadzah sintiya yang telah menjadi wali kelas 12 IPA selama 1,5 th
,trimakasih atas banyaknya dukungan yang engkau berikan kepada kami, trimakasih atas doa² dan dedikasi kepada kami,
trimakasih kepada ustadzah Widya yang telah menjadi wali kelas 12 IPS dari awal hingga akhir, trimakasih atas kesabaranmu mendidik kami dan atas keluasan hati mu menghadapi tingkah laku kami ,
trimakasih kepada ustadz Muammar yang telah menjadi wali kelas 12 IPA selama 1,5th ,mungkin beliau tidak hadir tapi jasanya selalu hadir di hati kami.
Trimakasih kepada ustadz dan ustadzah yang telah mendidik kami dan mengajar kami hingga detik ini.
Kata ‘terima kasih’ rasanya terlalu sederhana untuk menebus pengabdian tulus yang engkau berikan.
Engkau adalah lentera yang tak hanya menerangi nalar kami dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga menyentuh nurani kami dengan adab dan keteguhan iman.
Kami memohon maaf dari lubuk hati yang terdalam atas segala tingkah laku yang melukai perasaan, atas ketidaksabaran kami dalam belajar, dan atas segala khilaf yang sempat menggores luka.
Ketahuilah bahwa setiap nasihat yang Bapak dan Ibu berikan adalah jimat yang akan kami bawa ke medan juang yang sesungguhnya di luar sana.
Untuk teman-teman seperjuangan, kalian adalah saudara yang terpilih oleh takdir untuk mengisi kepingan puzzle terindah dalam hidupku. Kita telah melewati segalanya bersama—dari kecanggungan masa Matsama, hiruk-pikuk mengerjakan tugas di bawah tekanan, hingga momen-momen syahdu saat kita bersimpuh dalam barisan saf di musala, mengetuk pintu langit dengan doa yang sama.
Hari ini, saat kita bersiap melepas seragam putih abu-abu ini, ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.
Namun, kita tahu bahwa burung yang sayapnya sudah kuat harus meninggalkan sarang untuk menjemput cakrawala. Mari kita berjanji, bahwa sejauh mana pun angin membawa kita terbang, nilai-nilai kesantunan dan ketakwaan yang kita serap di madrasah ini tidak akan pernah luntur.
Jadilah orang hebat tanpa kehilangan jati diri sebagai santri yang rendah hati, laksana ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk.
Jangan biarkan perpisahan ini menjadi titik henti, melainkan awal dari kerinduan yang produktif. Pergilah untuk berjuang, tempa dirimu di kerasnya dunia, dan kembalilah ke rumah ini suatu hari nanti dengan membawa cerita sukses yang mampu mengharumkan nama almamater kita tercinta.
Ini bukan lah akhir Melainkan awal dari sebuah perjuangan,capailah cita- cita kalian setinggi lagi dan jangan pernah melupakan teman2 seperjuangan yang telah menemani selama tiga tahun di madrasah ini.
Selamat berjuang, kawan; sampai kita bertemu kembali di puncak kesuksesan dengan senyum yang paling tulus.”
Alisya







